SELAMAT dan SUKSES Kepada Puskesmas Kotabumi II Atas Diraihnya Sertifikat ISO 9001-2000  

     HALAMAN UTAMA
     Arsip Berita
     INDEX BERITA
     Berita Utama
     Kotabumi Bettah
     Lampura Sikep
     Politika & Hukum
     Radar Way Kanan
     Segitiga Emas
     Ruwa Jurai
     Pendidikan
     Kriminal
     Lakalantas
     Nasional
     Ekonomi
     Society
     Pariwara
     Olahraga
     Selebriti
     Opini
     INFORMASI
     Radar Group
     Telepon Penting
     ADVERTORIAL
     Tentang Kami
     Profil Redaksi
     Galeri Foto
     Buku Tamu
     Kontak Kami
  |O|u|r| C|l|i|e|n|t|
 
Jaya Sakti
 
STKIP Muhammadiyah Kotabumi
  Berita Radar Way Kanan
Senin, 03 Mei 2010 06:55:07 Klik : 858 Kirim Berita Ini! Print Berita Ini!
Share |
Masyarakat Pertanyakan Realisasi Kompor Gas
BANJIT – Masyarakat Waykanan mempertanyakan realisasi bantuan kompor gas elpigi dari pemerintah sebagai pengganti penggunaan minyak tanah. Mengingat distribusi minyak telah jauh dikurangi, bahkan yang berasal dari Sumatera Selatan (Sumsel) telah di stop berbulan-bulan. Akan tetapi, hingga kini kompor gas belum juga diterima masyarakat.

''Seingat saya, sejak program konpersi minyak tanah di dengungkan, banyak pangkalan minyak tanah tutup. Karena tidak lagi di suplay oleh agen, sebab agen minyak tanah penyuplay beralasan minyak di kurangi akan segera diganti dengan gas. Oleh karenanya, harga minyak tanah langsung melambung tinggi dan kini mencapai Rp6000-6.500 per liter di pengecer. Namun hingga kini belum ada masyarakat yang menerima pembagian gas dari pemerintah sebagaimana yang telah di sosialisasikan selama ini,'' ujar Perana, salah seorang warga Kecamatan Blambangan Umpu pada Radar.

Menurut Perana, semestinya pemerintah sebelum mengurangi jatah minyak tanah untuk di konpersi dengan gas, terlebih dahulu menjalankan programnya untul membagikan gas sedikit demi sedikit. Dimana pengurangan minyak tanah di suatu kecamatan atau daerah disesuaikan pula dengan pembagian gas. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Kompor gas belum juga dibagikan, sementara minyak tanah sudah di kurangi, sehingga masyarakat benar-benar dirugikan.

Pernyataan serupa disampaikan Edi dari Kecamatan Banjit. Menurut tokoh pemuda Banjit tersebut, masyarakat hingga kini terus menunggu sambil menjerit dalam hati karena mahalnya harga minyak tanah.

''Kalau dulu, paling tinggi harga minyak subsidi kita Rp4000 per liter di pengecer. Tapi saat ini harga minyak subsidi di pengecer mencapai Rp6000 per liter. Diduga, mereka membeli di pangkalan dengan harga tinggi. Anehnya lagi, pangkalan minyak tanah sekarang ini tidak mau memberi tahu berapa harga eceren tertinggi (HET) minyak tanah di Waykanan. (sah)

Share |
<< Kembali

Berita Radar Way Kanan Lainnya :

  RADAR LAMPUNG
    RADAR WAY KANAN
Tim Sukses ASRI Pertanyakan Foto Gubernur di Calon Lain
Hari Ini, 8.153 Siswa MI dan SD UN
Lima Srikandi Bersaing Ketat di Pilkada
Masyarakat Pertanyakan Realisasi Kompor Gas
PNS dan Kakam Diindikasikan Terlibat Pilkada
    LAMPURA SIKEP
Hendarsyah Kades Bandar Putih
PLTS Desa Sumbertani Pasok Energi Untuk 30 KK
Distako-PMII Perindah Kota Kotabumi
Pop Singer Akan Masuk Agenda Tahunan
Minta Dikembalikan Surat Berharga
  RADAR KOTABUMI
Radar Kotabumi

  SITUS RADAR GROUP
    Radar Lampung
    Rakyat Lampung
    Radar Tanggamus
    Radar Lamsel
    Radar Lambar
    Radar Lamteng
    Radar Metro
    Radar Tuba