| Laporan/Editor: Wartawan RNN
GEDONGTATAAN-Tanpa disangka-sangka, tembok bangunan Sekolah Dasar Negeri 3 Karanganyar, Kecamatan Gedongtataan, rubuh. Akibatnya Doni Wahyudi (10), siswa kelas 4 SD yang dimaksud, warga Dusun Candi Wulan, yang berdomisili hanya selang 200 meter dari bangunan gedung tersebut, harus tewas ditempat, akibat tertimpa runtuhan dinding tersebut.
Kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 15.00 WIB Rabu (12/8). Kejadian bermula ketika korban dan rekan-rekannya sedang bermain bola kaki di lapangan sekolah yang berada pada sisi yang sama dengan tembok sekolah yang rubuh tersebut.
Dimana menurut salah satu rekan korban, Ajim (09) siswa kelas 3 SDN yang sama, saat peristiwa tersebut terjadi, dia bersama korban dan 2 rekannya yang lain sedang bermain bola kaki di lapangan sekolah. Permainan ini sendiri memang setiap sore menjadi kegiatan mereka selama ini.
Saat itu, Doni menjadi penjaga gawang, tepat disamping tembok yang rubuh tersebut. Gawang bola kaki ini sendiri menggunakan tumpukan batu-bata. Karena terkena bola, tumpukan batu bata yang menjadi tanda batas gawang permainan ini menjadi buyar. Kemudian korban berinisiatif untuk memperbaikinya.
Ketika korban menunduk tersebutlah, tiba-tiba tanpa disangka tembok sekolah ini rubuh dengan bagian bangunan seluas 1 x 3 meter, yang menimpa korban. Kejadian yang begitu cepat, mengakibatkan rekan-rekannya tidak sempat memperingati korban.
Ketika melihat Dony tertimpa tembok bangunan ini, rekan-rekannya berusaha menolong dengan menarik tubuh korban yang sudah tidak berdaya. Akan tetapi usaha tersebut sia-sia, sampai ketika salah seorang tetangga, Rodiah melihat kejadian tersebut dan menjerit meminta tolong tetangganya yang lain, Ahmad Syakirin.
Saat ditolong oleh warga, posisi tubuh korban dalam posisi tertelungkup tak bergerak dengan runtuhan tembok diatas badannya. Korban mengalami luka pada bagian kepala bagian belakang, dan diperkirakan sudah tewas dilokasi kejadian.
Sementara menurut Rodiah (45), yang rumahnya berdampingan dengan bangunan SDN 3 Karanganyar, menjelaskan bahwa pada saat kejadian, dia mendengar ada suara gemuruh. Karena kaget, secara spontanitas dia langsung berlari mendekati asal suara untuk melihat serta mengecek sumber suara. Seketika dia terkejut dan menjerit ketika melihat seorang anak dengan kepala berlumuran darah tertelungkup tak bergerak, tertimpa runtuhan tembok. “Saya mendengar suara gruduk, karena kaget saya langsung lari melihat apa yang terjadi,” tandasnya.
Sementara setelah mengetahui ada siswa SD yang tertimpa bangunan tembok tersebut, warga lalu membawa korban ke Puskesmas Gedongtataan. Sesampainya di Puskesmas, korban baru diketahui sudah tidak bernyawa lagi.
Hal senada juga diungkapkan Wali Kelas Doni, Siti Sadiah saat diwawancarai seusai pemakaman korban yang dilakukan keluarganya pada Kamis (13/08) di TPU desa setempat, mengatakan bahwa korban sempat dibawa ke puskesmas untuk memberikan pertolongan secepatnya. Namun, meskipun sudah diberikan pertolongan semaksimal mungkin oleh pihak puskesmas dengan memberikan oksigen kepadanya, tetapi usaha mereka tetap saja tidak berhasil menolong korban. “Waktu dibawa ke puskesmas Gongtataan kondisinya sudah tidak bernyawa lagi,” tegasnya.
Sementara itu, menurut Kepala Sekolah SDN 3 Karanganyar, Martoyo, bangunan sekolah ini memang sudah cukup berumur. Dimana pembangunannya dilangsungkan apda tahun 1983 atau kini terhitung sudah berumur 26 tahun. Selama itu, meskipun pihak sekolah sudah seringkali mengajukan proposal pembangunan/rehab gedung, baik kepada Pemkab Lampung Selatan pada saat wilayah ini masih termasuk ke dalam kabupaten tersebut, maupun kepada Pemkab Pesawaran pada tahun 2007 lalu, namun hingga kini belum pernah diberikan bantuan dana perbaikan gedung yang diterima. Meskipun begitu, dia juga menyatakan tidak menduga jika bangunan tembok sekolah ini akan runuth, apalagi sampai menimbulkan korban jiwa.
Sementara itu, dua orang anggota DPRD Pesawaran, Lahmudin Kadir dan Umroni, S.Sos., menyalahkan pihak pemerintah atas kejadian tersebut. Dimana menurut mereka, pembangunan gedung sekolah yang sudah berumur seperti ini sudah seharusnya menjadi prioritas utama pembangunan bidang pendidikan. Untuk itu, dalam waktu dekat direncanakan agar pihak Komisi C melakukan pemanggilan terhadap Dinas Pendidikan setempat, guna membahas peosalan seperti ini lebih lanjut.
“Kejadian ini, murni kesalahan pemerintah. Sekolah diketahui merupakan tempat umum, dimana setiap hari berkumpul ratusan sisa/siswi yang megnenyam pendidikan. Jika bangunannya sudah lapuk, seharusnya segera diperbaiki dan jangan ditunda-tunda. Karena dampaknya bisa mengancam nyawa murid-murid yang ada,” tegasnya.
Saat diwawancarai di ruang ekrjanya, Kabag Humas Pesawraan, Johdrawadi, menaytakan bahwa Pj. Bupati Pesawaran sudah mendengar adanya perihal tersebut. Hanya saja karena padatnya acara Istighozah di Menara Siger, kepala daerah pesawaran tersebut tidak sempat melayat ke kediaman korban. “Rencananya, hari ini (Jumat, 13/08), Bapak (Pj. Bupati-red) baru dapat berkunjung ke sana, untuk melayat sekaligus memberikan santunan,” terangnya. (*) |